12/24/2009

Benarkah Anda Tak Punya Bakat Menulis?

Saya sering mendengar orang yang berkata, “Saya ingin menjadi penulis, tapi rasanya kok sulit sekali karena saya tidak punya bakat.”

Dulu, saya selalu menjawab ucapan seperti ini dengan perkataan, “Bakat itu tidak penting. Yang penting adalah kerja keras dan motivasi yang kuat.”

Ya, itu memang benar.

Tapi kini, ada pemikiran baru yang tiba-tiba hadir di kepala saya.
Apakah orang yang berkata seperti itu memang benar-benar tidak punya bakat menulis?

Sebelum dijawab, saya akan kutipkan sebuah pengalaman saya yang pernah ditulis di sini beberapa waktu lalu.

Ketika SD, saya pernah menyerah dalam belajar bermain gitar. Saya tetap tidak bisa juga walau sudah berkali-kali mencoba. Teman-teman lain dengan amat mudah mengenali kunci C dan berbagai macam kunci lainnya di snar gitar, sementara saya sama sekali tidak bisa melihat di mana bedanya. Teman-teman lain dengan sangat mudah memainkan nada dari lagu tertentu hanya setelah mereka mendengarnya satu kali saja. Sementara saya? Blank sama sekali soal begituan.


Saya teringat sesuatu:
Selain sama sekali tak bisa karena saya memang tak berbakat bermain gitar, seumur hidup saya pun memang tak pernah kepikiran untuk menjadi seorang pemain gitar. Ketika memutuskan untuk berhenti belajar bermain gitar, sampai hari ini saya sama sekali tidak menyesal. Saya merasa bahwa tak ada satu cita-cita atau ambisi atau mimpi pun pada diri saya yang harus dikorbankan. Saya tidak merasa kehilangan apapun!

Dari pembahasan di atas, saya akhirnya meyakini suatu hal:
Bila kita sama sekali tidak berbakat di bidang tertentu, itu artinya kita memang tak akan pernah tertarik untuk menekuni bidang tersebut.

Namun sebaliknya:
Bila Anda pernah merasa tertarik – walau dalam skala yang paling kecil sekalipun – untuk menekuni bidang tertentu, itu artinya Anda punya bakat di bidang tersebut.

Soal seberapa besarkah bakat Anda tersebut, ini adalah masalah yang berbeda

Yang jelas, bila Anda pernah berkata – setidaknya pada diri sendiri, “Saya ingin menjadi penulis,” atau “Saya ingin rajin menulis,” maka sebenarnya Anda punya bakat menulis! Kalau tak punya bakat menulis, pasti Anda tak akan pernah tertarik untuk menjadi penulis, atau rajin menulis.

Bila selama ini Anda merasa sulit menulis, sulit memahami teori-teori penulisan yang ada, itu sama sekali bukan menandakan Anda tidak punya bakat menulis. Tapi:

1. Mungkin Anda belum menemukan strategi yang jitu agar menulis menjadi mudah dilakukan.

2. Mungkin Anda belum terlalu termotivasi untuk belajar dan praktek menulis secara bersungguh-sungguh.

3. Mungkin bakat menulis Anda hanya sedikit. Jadi yang benar bukan “Anda tidak punya bakat”, melainkan “bakat Anda kecil”.

* * *

Jadi saran saya, mulai sekarang berhentilah berkata, “Saya tidak punya bakat menulis. Sebab bila Anda tertarik untuk membaca tulisan ini pun, itu artinya Anda sebenarnya punya bakat menulis.”
by jonru

Read More......

Pengusaha Indonesia Tidak Boleh Nasionalis?


Tiga tahun lalu, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Referensi Tertentu”. Ini sebenarnya artikel bertema kepenulisan. Tapi hari ini, saya ingin membahasnya lagi dari sudut pandang yang berbeda: Dunia Entrepreneur

Untuk jelasnya, coba Anda simak kutipan tulisan tersebut di bawah ini:

Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Kisahnya diawali dengan keputusan si pemuda untuk keluar dari perusahaannya dan berwiraswasta dengan berjualan tikar tradisional. Tikar tersebut ia buat sendiri, lalu dijual di perbatasan.

Tragisnya, produknya ini tidak laku, hanya gara-gara ia berkata jujur, “Tikar ini buatan saya sendiri”. Ternyata, para pembeli beranggapan bahwa tikar tersebut haruslah buatan daerah tertentu di Malaysia. Jika dibuat oleh orang Indonesia, maka dianggap tidak asli.
Si pemuda pun mencoba menjual produknya ini di Indonesia, tapi ternyata prospeknya tidak begitu cerah. ia pun kecewa dan prihatin. Ia telah bertekad untuk lebih mencintai negerinya. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal yang berbau Malaysia lebih disukai oleh masyarakat Indonesia di perbatasan tersebut. Terlebih, mata uang ringgit lebih disukai daripada rupiah. Hal-hal yang berbau Indonesia hanya mereka “nikmati” saat upacara bendera di sekolah.

Walau ini adalah cerpen yang notabene hanya kisah fiktif, tapi ide ceritanya berasal dari kisah nyata. Herti, si penulis cerpen tersebut, pernah bercerita pada saya bahwa cerpen ini ditulis setelah dia membaca artikel di sebuah majalah tentang fenomena kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia.

Karena sudah ditulis sejak tiga tahun lalu, sebenarnya saya tak begitu perhatian lagi terhadap cerpen tersebut. Tapi hari ini, tiba-tiba saya tergerak untuk membahasnya lagi.

Gara-garanya, beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang perempuan yang masih muda, dia pengusaha kue kering yang sudah sukses dari Bandung. Kami sebenarnya berbincang soal rencana dia untuk menerbitkan buku. Tapi di sela-sela pembicaraan, si teman ini bercerita tentang salah satu pengalaman dia ketika berkunjung ke Jepang.

“Masa orang Jepang itu bilang, your cake is too fancy for Indonesia. Kalau ini buatan Malaysia atau Singapore, saya mau beli. Tapi karena buatan Indonesia, maaf saya tak mau beli. Saya sarankan pada Anda, ubah saja label ‘made in Indonesia’ di produk Anda ini menjadi “made in Malaysia’ atau ‘made in Singapore’. Dijamin lebih laris. Anda akan mendapat profil yang jauh lebih besar.”

Si teman ini terlihat emosi ketika menceritakan pengalaman di atas. “Kalau saya hanya memikirkan uang sih, saran dia itu akan segera saya ikuti. Tapi saya masih punya jiwa nasionalisme. Hati saya terasa sangat sakit ketika dia mengucapkan kalimat itu. Sedemikian rendahkah citra Indonesia di mata dunia luar?”

* * *

Dua kisah di atas membuat saya mikir-mikir. Saat ini, sebagai sebagai entrepreneur, hal-hal seperti di atas belum pernah saya alami. Saya juga punya banyak teman pengusaha di Komunitas Tangan Di Atas. Banyak di antara mereka yang sudah sukses ‘melebarkan sayap’ sampai ke luar negeri.

Pak A.R. Hantiar misalnya, pernah menceritakan salah satu pengalaman menariknya ketika ia berkunjung ke sebuah negara Eropa. Ternyata, masyarakat di sana menganggap bahwa penduduk Indonesia adalah orang-orang yang sangat religius. Intinya, citra Indonesia di mata mereka sangat positif.

Jadi, mungkin tidak semua orang luar negeri memandang Indonesia secara under estimate. Mungkin banyak juga produk kita yang tetap laku di luar negeri, walau diberi label ‘made in Indonesia’.

Tapi terlepas dari apapun, saya berpendapat bahwa kedua kisah di atas merupakan salah satu fakta yang perlu kita cermati dengan serius.

Pertanyaannya adalah:
Mengapa banyak orang luar yang memandang Indonesia dengan rendah seperti itu?

Menurut saya:

1. Karena kita adalah bangsa yang tidak percaya diri. Kita lebih senang menggunakan produk-produk luar daripada produk kita sendiri.

Ketika Malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai budaya mereka, barulah kita kebakaran jenggot. Tapi sebelumnya, apakah kita sudah serius dalam memelihara dan mengembangkan tarian dari Bali ini agar ia tetap lestari dan dicintai oleh generasi muda kita?

Maaf, saya tak terlalu yakin

Terlepas siapapun Megawati Soekarno Putri, terlepas dari fakta bahwa saya BUKAN salah seorang pengagum dia, terus terus terang saya sangat setuju pada ucapannya dalam acara Capres Bicara di Trans TV beberapa bulan lalu. Saat itu, Megawati menyatakan prihatin terhadap remaja Indonesia yang lebih menyukai lagu dan tari-tarian dari Barat ketimbang lagu dan tari-tarian asli Indonesia.

2. Karena mental bangsa kita sudah bobrok. Ingatlah kasus KPK, Cicak vs Buaya. Saya tak perlu bercerita panjang lebar. Anda pasti lebih tahu

3. Karena sumber alam kita yang seharusnya dikelola oleh negara (bahkan sudah diatur secara sangat jelas dalam UUD 45), eh.. malah diserahkan kepada pihak asing. Coba hitung, sudah berapa banyak BUMN kita yang dijual ke luar negeri. Sudah berapa banyak sumber alam kita yang menjadi milik asing?

KETIGA POIN di atas – menurut saya – merupakan faktor utama yang menyebabkan banyak orang luar negeri yang memandang rendah terhadap negeri kita.

* * *

Saya jadi ingat cerita tentang Republik Rakyat China (RRC). Dulu, mereka adalah negeri yang biasa-biasa saja. Ketika bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa internasional nomor satu di dunia, mereka justru tidak mau mengakuinya. Mereka PERCAYA DIRI dengan bahasa mereka sendiri.

Lantas, singkat cerita, banyak warga China yang akhirnya sukses di mana-mana. Mereka punya perusahaan-perusahaan besar, mereka menguasai banyak sektor perekonomian.

Kondisi ini menyebabkan posisi China di peta perekonomian dunia sangat besar. Mereka punya “kekuatan luar biasa” yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kekuatan ini menyebabkan banyak perusahaan milik orang China yang dengan penuh percaya diri mencantumkan salah satu persyaratan berikut dalam penerimaan karyawan baru:

“Menguasai bahasa Mandarin baik secara aktif maupun pasif”

Artinya, secara perlahan dan alamiah namun pasti, bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa paling berpengaruh di dunia. Dan akhirnya, bahasa ini pun ditetapkan sebagai salah satu bahasa internasional!

Kita mungkin tercengang. Tapi menurut saya: Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap percaya diri. Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap nasionalisme.

Siapa yang teguh dalam memegang prinsip hidupnya, dan percaya diri dengan keunikan dirinya, maka Insya Allah dia akan menjadi orang yang sangat sukses di masa depan!

* * *

Keteguhan sikap dan kepercayaan diri, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat China, memang terkesan tidak menguntungkan dalam jangka pendek.

Ya, coba bayangkan saja bagaimana bila si teman pengusaha dari Bandung tersebut ketika dia menolak saran orang Jepang untuk mengganti lebel produknya.

Ya, dia “kehilangan” banyak potensi penghasilan.

Tapi, saya percaya, itu adalah potensi jangka pendek belaka.

Sementara untuk jangka panjang, simaklah cerita tentang negeri China di atas. Itu adalah bukti yang SANGAT JELAS

* * *

Jadi kalau sekarang saya ditanya:
“Apakah sebagai pengusaha Indonesia, kita tak boleh nasionalis?”

JAWABAN SAYA: Kita harus sangat nasionalis.

Kita harus teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang kita yakini.

Kita harus percaya diri dengan potensi dan keunikan kita sendiri.

Saya percaya, inilah salah satu cara paling jitu agar bangsa kita bisa bangkit lagi, bisa dihormati lagi oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini!

NB: Saya jadi kepikiran, tiba-tiba punya sebuah mimpi besar: Saya ingin sekali agar Sekolah-Menulis Online suatu saat nanti diakui oleh dunia sebagai salah satu produk Indonesia yang bisa mengharumkan nama bangsa ini. Amiin, semoga tercapai!

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com



Read More......

Kesuksesan Anda BISA Berawal dari Hal “Sepele” Seperti Ini

Banyak hal besar yang berawal dari hal-hal kecil. Karena itu, untuk mencapai SUKSES (yang tentu kita sepakati sebagai sesuatu yang besar), yuk kita mulai dari hal-hal kecil. Kali ini, saya akan membahas sesuatu yang mungkin SELAMA INI kita anggap sangat sepele. Tapi sebenarnya, ia bisa sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita di masa depan.
Anda penasaran? Baiklah. Saya akan jelaskan dari dua contoh kalimat yang sangat sederhana:

1. Menulis Cerpen Itu Sulit

2. Menulis Cerpen Itu Tidak Mudah

Pertanyaan saya:

Dari segi MAKNA, apa perbedaan di antara kedua kalimat di atas?

Tentu saja, jawabannya TIDAK ADA. Kedua kalimat di atas memiliki makna yang SAMA SAJA.Tak Ada Bedanya.

Tapi coba Anda baca lagi kedua kalimat di atas dengan menggunakan PERASAAN. Ya, libatkan perasaan Anda ketika mencerna kedua kalimat di atas. Lalu bertanyalah pada diri sendiri, “Kalimat mana yang membuat saya MERASA lebih nyaman?”

Saya yakin, jawaban Anda adalah “Kalimat ke-2″.

MENGAPA?
Saya akan memaparkan sebuah RAHASIA:

Dari seluruh kalimat yang diucapkan oleh siapapun, maka pikiran kita akan lebih cepat mencerna unsur PREDIKAT.

Hm, Anda masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu, kan? Agar lebih jelas, yuk kita refreshing dulu:

Rumus kalimat: Subjek + Predikat + Objek

Contoh I: Budi Membaca Buku
Predikat pada kalimat ini adalah MEMBACA

Contoh II: Menulis Cerpen Itu Sulit
Predikat pada kalimat ini adalah SULIT

Contoh III: Menulis Cerpen itu Tidak Mudah
Predikat pada kalimat ini adalah MUDAH

Contoh IV: Saya Bingung tentang Syarat Lomba Itu
Predikat pada kalimat ini adalah BINGUNG

* * *

Bila Anda mengucapkan kalimat Contoh II (Menulis Cerpen Itu Sulit), maka pikiran Anda akan menangkap kata SULIT. Karena “sulit” adalah kata yang negatif, maka otomatis perasaan Anda pun menjadi tidak nyaman. Dan kelanjutannya bisa macam-macam.

Contoh:

“Menulis cerpen itu kan sulit. Jadi jangan coba-coba deh, menulis cerpen. Sulit gitu lho. Saya tak mungkin menjadi penulis cerpen!”

Dan bila Anda sudah berpikir seperti ini, maka dampaknya pun bisa macam-macam. Anda mungkin merasa gagal sebagai penulis cerpen. Anda stress, frustasi, bahkan depresi hingga bunuh diri (ya, ini bisa saja terjadi bila iman seseorang tidak kuat, hehehehe…)

* * *

Sekarang coba bandingkan bila yang Anda ucapkan adalah kalimat Contoh III (Menulis Cerpen itu Tidak Mudah). Pikiran Anda akan menangkap kata “Mudah”. Ini adalah kata yang bersifat positif.

Karena bersifat positif, maka perasaan Anda merasa nyaman ketika mengucapkannya. Karena merasa nyaman, maka dampak-dampak positif lainnya akan muncul. Seperti:

“Ya, memang menulis cerpen memang tidak mudah. Tapi bila saya mau belajar dan terus mencoba, siapa tahu suatu saat nanti menulis cerpen menjadi sangat mudah bagi saya!”

* * *

Sekarang saya hendak mengajukan SATU PERTANYAAN PENTING:

Dari kalimat Contoh II dan Contoh III di atas, kalimat mana yang bisa MENGGERAKKAN dan MEMOTIVASI Anda untuk meraih sukses?

Pasti, jawabannya adalah contoh Kalimat III.

Sedangkan kalimat II justru membawa kita menjadi orang yang pesimis, khawatir, stress, dan seterusnya.

* * *

Maka, SALAH SATU kiat sukses adalah:

Hindari penempatan kata-kata yang bersifat negatif pada predikat kalimat Anda.

Setiap kali Anda hendak melakukan hal ini, coba biasakan untuk SEGERA menggantinya menjadi kalimat yang positif.

Contoh sederhana:

- Kalimat “Menulis Cerpen Itu Sulit” silahkan diganti menjadi “Menulis Cerpen Itu Tidak Mudah.”

- Kalimat “Saya Bingung tentang Syarat Lomba Itu” silahkan diganti menjadi “Saya Belum Mengerti tentang Syarat Lomba Itu” atau “Saya Masih Penasaran tentang Syarat Lomba Itu”, dan seterusnya.

* * *

Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com



Read More......

[Kiat Menulis] Berguru dari Penulis yang (justru) Merasa BUKAN Penulis

Berdasarkan penerawangan pengamatan saya, ada berbagai macam jenis penulis yang hidup di muka bumi ini. Yaitu:

1.Penulis profesional, yakni orang-orang yang mencari uang lewat kegiatan menulis. Mereka ini masih terbagi dua lagi, yakni:
1.Full Time Writer ==> Menulis sebagai sumber penghasilan utama.
2.Part Time Writer ==> Menulis sebagai salah satu sumber penghasilan utama.
2.Penulis amatir, yakni orang-orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi belaka. Banyak orang yang salah persepsi terhadap istilah “penulis amatir” ini. Mereka mengira, penulis amatir adalah orang-orang yang belum pintar menulis, Hm, ini pandangan yang keliru, Saudara-saudara Sekalian!
Termasuk ke dalam golongan penulis amatir:
Orang-orang yang menulis untuk tujuan menambah pergaulan, berbagi ilmu, menghilangkan stress, aktualisasi diri, dan sebagainya.
Seiring dengan perkembangan zaman pengalaman dan keahlian mereka, banyak penulis amatir yang akhirnya beralih status menjadi penulis profesional.
3.Penulis Tidak Sadar, yakni orang-orang yang sering menulis (dengan tujuan tertentu), tapi mereka merasa bukan penulis. Contohnya
1.Blogger. Mereka ini umumnya lebih senang disebut blogger daripada penulis. Padahal kegiatan utama mereka justru menulis. Jadi, sebenarnya mereka ini penulis juga, kan? (Barulah ketika tulisan di blog mereka diterbitkan menjadi buku, mereka dengan percaya diri mengatakan, “Saya penulis.”)


2.Pebisnis online atau internet marketer. Mereka biasanya menulis untuk tujuan SEO, meningkatkan trafik website, dan sebagainya. Sama seperti blogger, mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya penulis.
3.Staf atau manajer humas di perusahaan, yang harus sering menulis untuk dibaca oleh wartawan atau konsumen mereka.
4.Dan sebagainya.
4.Penulis Wanna Be, yaitu orang yang bercita-cita menjadi penulis, tapi tak terwujud juga. Bukan karena mereka gagal. Bagaimana mungkin dibilang gagal, jika mencoba saja belum pernah. Mereka mengaku terlalu sibuk, banyak kendala, belum tahu caranya, MERASA MINDER, dan sebagainya dan sebagainya. Ah, banyak alasan deh pokoknya
* * *

Pada tulisan ini, saya tertarik untuk membahas penulis jenis ke-3.

Kenapa?
Sebab bagi kita semua yang termasuk penulis jenis nomor 1, 2 atau 4, SANGAT PERLU BERGURU PADA MEREKA.

Kenapa?

Coba perhatikan: Mereka ini pada umumnya bisa membuat tulisan yang bagus dengan cara yang sangat mudah.

Kenapa?

Sebab mereka tak punya beban dalam menulis. Ya, tentu saja. Mereka kan merasa bukan penulis. Jadi mereka menulis secara alamiah saja. Sesuai gaya dan passion masing-masing.

Maka, dari penulis jenis ke-3 inilah, lahirlah banyak tulisan yang bagus, berkualitas, dan disukai oleh banyak orang.

Bila Anda ingin saya menyebutkan contohnya, baiklah! Berikut beberapa di antaranya:

1.Fauzi Rachmanto (banyak teman yang bilang, tulisan dia “daging semua”, saking bagusnya). Belakangan beliau juga menerbitkan buku dan menjadi kolumnis di majalah Wirausaha & Keuangan. Selamat ya Pak
2.Roni Yuzirman. Tulisan-tulisan di blog pribadinya menjadi salah satu cikal bakal lahir dan berkembangnya Komunitas Tangan Di Atas yang terkenal itu.
3.Agung “mbot” Nugroho. Demi Tuhan, tulisan-tulisan dia sangat unik dan luar biasa! Belakangan, Mbot juga menerbitkan sebuah buku.
4.Edy Sihombing. Ia banyak menulis mengenai internet marketing.
5.Akmal. Dia ini adalah penulis yang menurut saya, “Cara berpikirnya kok persis banget dengan saya?”
6.Priyadi. Walau sekarang berhenti ngeblog, yang jelas tulisan-tulisan di blognya sangat bagus, diminati oleh banyak orang, sehingga dia PERNAH menjadi blogger paling ngetop di Indonesia.
7.Cosa Aranda. Karena tulisan-tulisan di blognya-lah, dia kini sukses sebagai salah seorang internet marketer paling ngetop di Indonesia.
8.Welly Mulia. Sama seperti internet marketer sukses lainnya, dia juga banyak membuat tulisan yang bagus di blog pribadinya.
Oke, delapan saja sudah cukup, ya. Maaf bagi teman-teman yang merasa sebagai penulis jenis ke-3, tapi belum saya cantumkan di atas. Bukan berarti saya lupa pada Anda. Tapi kalau ditulis semuanya, bisa-bisa tulisan ini berubah menjadi “daftar nama penulis”

Yang jelas, saya sangat kagum pada Anda semua!

* * *

Nah, bagi kita-kita ini yang merasa sebagai penulis jenis 1, 2 atau 4, dan selama ini masih menghadapi kendala dalam menulis, cobalah kita berguru kepada para penulis jenis ke-3 di atas.

Kenapa kita sering mandeg dan tak bisa menulis?

Karena belum apa-apa, kita sudah banyak berpikir:

“Nanti tulisannya bagus enggak, ya?”

“Apa tulisan seperti ini layak disebut cerpen?”

“Bagaimana kalau tata bahasanya tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan?”

“Bagaimana kalau para pembaca mengejek tulisan ini? Duh, malunya!”

Para penulis jenis ke-3 di atas, sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Mereka menulis secara spontan saja, tanpa banyak mikir.

“Ah, mungkin karena mereka memang berbakat!!!”

HEI SIAPA YANG BILANG ITU????

Kalau Anda masih percaya bahwa bakat itu penting, coba baca dulu artikel yang ini dan yang ini

Percayalah! Yang dilakukan oleh para penulis jenis ke-3 di atas – yang menyebabkan mereka sukses sebagai penulis, adalah:

MEREKA MENULIS DENGAN OTAK KANAN

Anda sudah baca tulisan “Kiat Menulis Bebas” alias “Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri?”

Kalau belum, coba dibaca dulu ya.

(Ada beberapa teman yang – katanya – sudah membaca tulisan tersebut. Tapi, “Ketika saya mempraktekkan kiat menulis bebas, kok masih susah ya? Saya tetap mandeg menulis!!!”

Temanku, percayalah! Ini hanya soal latihan. Segala sesuatu yang masih baru, memang terasa berat ketika dicoba, Karena itu, teruslah berlatih, ya! Tetap Semangat! Pantang Menyerah!)

Nah, bila Anda ingin menjadi penulis yang percaya diri, punya motivasi yang tinggi, tangguh, pantang menyerah dalam menghadapi kendala apapun termasuk penolakan naskah, selalu rajin dan penuh semangat dalam menulis……

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com


Read More......

[Kiat Menulis] Bagaimana Cara Membuat Tulisan yang Bagus, Menarik dan Menggugah?

Dalam berbagai kegiatan pelatihan penulisan, atau obrolan pribadi, saya seringkali disambut oleh pertanyaan seperti ini. Tentu saja, susunan redaksionalnya berbeda-beda. Ada teman penulis yang bertanya, “Saya ingin membuat tulisan yang sangat luar biasa seperti novel Laskar Pelangi. Bagaimana caranya?”
Atau, “Bagaimana caranya agar saya bisa membuat tulisan yang benar-benar berkualitas tinggi, disukai oleh jutaan pembaca, menggugah, menimbulkan kesan yang mendalam, menyentuh perasaan, pokoknya yang benar-benar spesial dan luar biasa banget, deh.”

Baruan (sebelum tulisan ini dibuat), ada teman lain yang bertanya, “Kenapa sebuah karya bisa “abadi” di hati pembaca? Misalnya Ronggeng Dukuh Paruk-nya Pak Ahmad Tohari. Ada resep khusus untuk membuat karya seperti itu?”

Saya yakin, banyak di antara Anda yang memiliki pertanyaan yang sama. Anda pasti ingin tahu apa jawabannya, ya?

Oke, menurut pendapat saya begini:

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tak perlu diajukan sama sekali. Anda bahkan tak perlu memikirkannya.

Yang harus Anda lakukan adalah:

■Teruslah berlatih menulis. Jangan pernah berhenti menulis. Sebab menulis itu seperti menyetir mobil. Semakin tinggi jam terbang Anda, maka keahlian Anda pun insya Allah semakin baik.
■Rajin-rajinlah membaca buku-buku yang berkualitas. Jika tubuh kita diibaratkan “pabrik penulis”, maka inputnya – antara lain adalah bacaan, dan outputnya (atau produk yang dihasilkan) adalah tulisan. Dengan demikian, kegiatan membaca bagi seorang penulis sangat penting. Tulisan kita akan banyak diwarnai oleh jenis bacaan yang kita lahap. Bila Anda rajin membaca teenlit, maka Anda akan menjadi seorang penulis teenlit. Bila Anda rajin membaca opini di surat kabar, maka Anda akan menjadi seorang penulis opini. Demikian seterusnya.
Jadi bila Anda ingin membuat novel sebagus “Ronggeng Dukuh Paruk” misalnya, maka rajin-rajinlah membaca novel yang kualitasnya seperti itu. Maka insya Allah, Anda akan ketularan

Kiat yang saya beberkan di atas mungkin terkesan sangat sederhana. Anda mungkin tidak percaya, bahwa untuk membuat tulisan yang sangat bagus, menarik, menggugah dan abadi di hati pembaca, kiatnya hanya sesederhana itu.

Tapi percayalah! Kiat di atas memang terkesan sangat sederhana. Tapi bila dipraktekkan secara sungguh-sungguh, insya Allah suatu saat nanti Anda akan menemukan sebuah – bahkan mungkin banyak – fakta yang mengejutkan

Yang jelas, seperti yang saya sebutkan di atas, Anda tak perlu repot-repot memikirkan “Bagaimana caranya agar saya bisa membuat tulisan yang sebagus novel karya Ahmad Tohari atau Andrea Hirata”. Praktekkan saja kedua kiat di atas. Saya doakan, suatu saat nanti Anda akan jauh lebih hebat dari Andrea Hirata bahkan Stephen King!

Amiin….

Cilangkap, 6 Juni 2008

Jonru



Read More......

Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Ralepi.Com - Harley-Davidson Motorcycle