9/24/2011

try it out for yourself

hey...
I was ready to start a new chapter in my life this was opportunity knocking now there is no turning back I wouldnt make this up
http://n-gage.ws/engine/redirect.php?hejiw&ref=aol.com&hdparm=aol.com&url=http://businessnewsone.net/esubmit/bizopp_main.php
talk to you later.

Read More......

12/24/2009

[Stop Dreaming Start Action] Kapan Saat yang Tepat untuk MULAI Menulis?


Alkisah, ada seorang sahabat bernama A yang berkata kepada seorang penulis terkenal bernama B, “Saya ingin sekali jadi penulis hebat seperti Anda. Karena itu, saya akan menulis. Saya akan membuat tulisan yang menggemparkan dunia penulisan di jagat raya ini. Saya akan menjadi penulis yang jauh lebih ngetop dibanding Anda!”

Sepuluh tahun kemudian, Si A dan si B bertemu lagi. Si B bertanya, “Halo A, apakah cita-cita kamu untuk menjadi penulis hebat sudah tercapai? Sudah berapa ratus tulisan yang kamu hasilkan?”

“Saya belum membuat satu tulisan pun. Tapi saya masih bercita-cita menjadi penulis hebat, lebih hebat dari Anda. Tunggu saja, ya!”

Dua puluh tahun kemudian, si A dan si B bertemu lagi. Si A masih menjadi “penulis wanna be” karena dia belum membuat satu tulisan pun!
* * *

Saya yakin, ada begitu banyak penulis seperti si A. Mereka hanya berhenti pada mimpi, tapi belum pernah berusaha untuk mewujudkannya. Dengan kata lain, mereka hanya Dreaming, selalu menunda-nunda untuk Action atau MULAI MENULIS.

Jika ditanya kenapa masih menunda, biasanya mereka akan memberikan jawaban-jawaban yang standar seperti berikut.

1.Saya masih sangat sibuk. Aktivitas saya sangat banyak.
.
2.Nanti saja deh, setelah….
.
3.Ilmu saya masih sedikit. Nanti kalau sudah ahli, saya akan mulai menulis.
.
4.Saya tidak tahu bagaimana cara untuk mulai menulis.
Mereka merasa “berada di pihak yang benar” dengan alasan-alasan itu. Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar berada dalam “kebenaran?” Apakah alasan-alasan mereka itu cukup kuat?

Yuk kita bahas satu-persatu.



Bicara soal kesibukan, sebenarnya Anda tidak sendirian. Hampir semua orang pasti sibuk. Tantowi Yahya sangat sibuk. Agnes Monica juga sibuk. Stephen King sama saja. Bill Gates apalagi.

Tapi kenapa mereka bisa menjadi orang sukses? Kenapa mereka bisa menangani demikian banyak pekerjaan dan masalah? Padahal waktu yang tersedia untuk Bill Gates dan Anda sama-sama 24 jam sehari.

Kuncinya sebenarnya pada tiga hal berikut:

1.Stop Dreaming Start Action. Ya, buat apa terlalu lama bermimpi? Sebab hanya action yang bisa mewujudkan mimpi Anda!
.
2.Manajemen Waktu. Mereka pintar mengelola waktu. Mereka selalu disiplin dalam segala hal.
.
3.Motivasi. Mereka punya tujuan yang jelas, lantas punya komitmen dan mau bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut.

Salah satu rahasia orang sukses adalah kemampuan mereka dalam mengelola waktu. Bagaimana caranya agar dengan waktu yang tersedia, mereka bisa melaksanakan semua tugas secara efektif dan efisien.

Orang sukses bukanlah orang yang punya banyak waktu luang. Orang sukses adalah orang yang pintar dan disiplin dalam mengelola waktu.

Info selengkapnya, klik di sini.

2. Nanti saja deh, setelah….

Ketika kuliah, di saat baru merintis karir sebagai penulis, saya sempat berpikir bahwa kondisi saya belum ideal untuk menulis. Bayangkan saja! Saya saat itu masih menjadi anak kos. Sering pindah rumah. Bagaimana bila saya mengirim naskah ketika saya masih tinggal di Rumah A. Lalu ketika naskah itu dimuat, saya sudah pindah ke rumah D. Kiriman wesel untuk honor saya akan salah alamat. Satu eksemplar majalah yang dikirim sebagai bukti pemuatan naskah pun bernasib sama. Wah, tentu sangat merepotkan!

(Sekadar info, saat itu belum ada internet, dan saya belum mengenal komputer. Honor tulisan masih dikirim via wesel pos).

Dengan alasan seperti itu, saya sempat berpikir untuk tidak menulis dulu. Situasi saya belum ideal untuk menulis.

Alhamdulilah, saya berhasil menepis perasaan seperti itu. Saya tetap menulis, bagaimana pun kondisi yang saya hadapi!

Saya yakin, Anda pun mungkin sering punya pikiran seperti itu. Anda merasa bahwa kondisi Anda belum ideal. Misalnya seorang anak SMA akan beralasan, “Saya belum siap. Sekolah di SMA itu kan penuh dengan kesibukan. Mana ujian sudah dekat, banyak kegiatan ekskul, belum lagi les ini les itu. Tak ada waktu deh, buat menulis. Jadi tunggu aja setamat SMA nanti, ketika hidup saya jauh lebih stabil dibanding sekarang.”

“Nanti saja deh, setelah…” adalah alasan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang merasa bahwa kondisi mereka saat ini belum ideal untuk menulis. Padahal tahukah Anda, bahwa kita sebenarnya tak akan pernah menghadapi kondisi ideal pada hidup kita?

Katakanlah bagi Anda yang masih jomblo. Anda merasa kondisi belum ideal karena Anda masih kesepian, tak ada teman bila pergi pesta, tak ada teman curhat, tak ada tempat penyaluran hawa nafsu, dan seterusnya. Tapi setelah menikah, apakah masalah selesai? Tidak juga! Justru Anda akan menghadapi masalah-masalah baru. Anda harus beradaptasi dengan pasangan yang punya sikap, kebiasaan bahkan budaya yang benar-benar berbeda. Anda harus banyak bertoleransi. Anda mungkin harus mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadi demi menghargai pasangan Anda. Bahkan ketika sudah punya anak, Anda harus repot lagi mengurus si kecil.

Sekali lagi, kita tak akan pernah menghadapi kondisi ideal seperti yang kita impikan, selama kita masih hidup di dunia ini. Karena itu, jangan tunggu kondisi ideal. Dia tak akan pernah tiba!

Stop Dreaming Start Action. Mulailah menulis saat ini juga, tidak peduli apapun dan bagaimanapun kondisi Anda!

Lagipula berdasarkan pengalaman, alasan nomor dua ini sebenarnya termasuk alasan yang “tak ada matinya”. Si pencetus alasan tetap akan mengeluarkan alasan-alasan baru, dan mengingkari alasan-alasan terdahulu.

Bila sudah tamat SMA, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau sudah lulus kuliah.”
Bila sudah lulus kuliah, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau sudah bekerja.”
Bila sudah bekerja, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau sudah menikah.”
Bila sudah menikah, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau sudah punya anak.”
Bila sudah punya anak, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau anak-anak saya sudah besar.”
Bila anak-anaknya sudah besar, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau semua anak saya sudah menikah.”
Bila semua anaknya sudah menikah, dia akan berkata, “Nanti saja deh, kalau saya sudah punya cucu.”
Bila sudah punya cucu, dia akan berkata, “Nanti saja deh, di akhirat.”

3. Ilmu saya masih sedikit. Nanti kalau sudah ahli, saya akan mulai menulis.

Untuk alasan yang satu ini, saya merasa perlu mengutip slogan yang selalu didengung-dengungkan oleh rekan saya Eko June:

Anda Tidak Perlu Hebat Untuk Memulai, Tetapi Anda Harus Memulai Untuk Menjadi Hebat.

Berikut adalah kutipan lengkapnya.

Orang2 sukses dan hebat sekarang adalah orang2 yang memulai. Tanpa menunggu agak2 hebat, sedikit hebat, cenderung hebat atau nyerempet hebat . Tanpa menunggu kondisi ideal digenggaman, baru action. No.

Kenapa saya bilang dalem artinya ?

Karena jika kita memahami dan agak diubah sedikit redaksinya maka akan sesuai dengan kondisi yang kita inginkan dan akan kita lakukan.

Anda Tidak Perlu Seberani Helmy Yahya Untuk Mulai Bicara, Tetapi Anda Harus Mulai Bicara Di Depan Umum Agar Bisa Seberani Helmy Yahya.

….

Anda Tidak Perlu Sepintar Helvy Tiana Rosa Untuk Mulai Menulis, Tetapi Anda Harus Mulai Menulis Agar Bisa Sepintar Helvy Tiana Rosa.

….

Dan masih banyak lagi.


Justru, bila Anda menunggu hingga punya keahlian dan pengetahuan yang banyak untuk mulai menulis, Anda tak akan pernah menjadi ahli. Keahlian dan pengetahuan justru akan Anda dapatkan dari PRAKTEK MENULIS. Semakin sering menulis, maka keahlian dan pengetahuan Anda akan semakin baik.



4. Saya tidak tahu bagaimana cara untuk mulai menulis

Ya, banyak sekali orang yang bertanya sambil kebingungan, “Saya ingin menjadi penulis hebat. Bagaimana cara memulainya?”

Sebenarnya, cara untuk mulai menulis sangat gampang: LANGSUNG SAJA MENULIS.

Penulis bukanlah seperti dokter yang harus kuliah selama bertahun-tahun dulu, mendapat surat izin praktek dari departemen kesehatan, dan seterusnya. Untuk menjadi penulis, Anda tak perlu kuliah dulu, tak perlu ujian dulu, tak perlu izin dari siapapun, tak perlu mengumpulkan modal apapun. Pokoknya tak ada yang Anda butuhkan selain nyawa yang belum dicabut.

Bahkan bila Anda tak punya tangan untuk mengetik, Anda bisa menyewa orang lain untuk menuliskan apa saja yang Anda ucapkan.

Bagaimana cara mulai menulis?

Ya langsung saja menulis! Penjelasan selengkapnya, klik di sini

* * *

Apa Beda Pemenang dengan Pecundang?


Jawabannya adalah Stop Dreaming Start Action, seperti yang pernah ditulis oleh Joko Susilo.

Anda tentu kenal para penulis seperti Helvy Tiana Rosa, Dewi Lestari, Andrea Hirata, dan sebagainya. Atau para blogger ternama seperti Priyadi, Enda Nasution, Ikhlasul Amal, Joko Susilo, Cosa Aranda, Welly Mulia, dan masih banyak lagi. Mereka ngetop karena tanpa ba bi bu mereka langsung ACTION, langsung praktek menulis.

Masyarakat kini menganggap mereka adalah orang hebat dan sukses, padahal mereka awalnya bukan siapa-siapa. Semua pencapaian dan kesuksesan yang mereka dapatkan sekarang berawal dari sesuatu yang bernama ACTION atau MULAI MENULIS.

Jadi bila saat ini Anda masih bermimpi menjadi penulis sukses tapi belum action juga, maka saran saya:

Stop Dreaming Start Action!

Dan bila Anda masih bertanya “Bagaimana cara mulai menulis?”, sebenarnya Anda sudah tahu jawabannya. Tak perlu bingung tak perlu heran.

TAK ADA ALASAN UNTUK MENUNDA! Mulailah Menulis SAAT INI JUGA!

Semoga terinspirasi, semoga bermanfaat.

Salam Sukses!

Jonru


Read More......

[Stop Dreaming Start Action] The Power of Kepepet

Saya sedang menyukai slogan Stop Dreaming Start Action. Sebab ini adalah seruan penuh motivasi yang bisa membangungkan kita dari mimpi yang panjang. Tapi walau sudah diberi motivasi sebesar apapun, masih banyak juga orang yang ogah-ogahan, bingung, belum tergerak untuk segera action.

Beberapa hari lalu, ketika saya mengisi acara pelatihan di sebuah kampus, Pak Moderator mengomentari jumlah peserta yang tidak banyak. “Inilah buktinya bahwa jumlah orang yang ingin sukses itu hanya sedikit,” katanya.

Ucapan dia ini saya komentari dengan pendapat, “Sebenarnya semua orang ingin sukses. Apakah ada di antara Anda yang ingin miskin terus? Jadi pecundang terus? Menjadi orang gagal seumur hidup Anda? Tentu tidak, bukan? Semua orang PASTI ingin sukses. Tapi orang yang menindaklanjuti keinginan tersebut dengan ACTION-lah yang jumlahnya sedikit.”
Maka, Stop Dreaming Start Action. ACTION adalah langkah pertama untuk mewujudkan mimpi dan keingianan Anda.

Masalahnya, tidak banyak orang yang tergerak untuk SEGERA action. Mereka masih suka menunda-nunda. Apakah Anda juga seperti itu?

Jika ya, salah satu KIAT PALING JITU untuk mengatasinya adalah menciptakan situasi kepepet. Kita bisa menyebut ini sebagai “The Power of Kepepet” (bahkan ada bukunya).

Situasi kepepet memang cenderung membuat orang kreatif. Dalam situasi kepepet, pikiran kita dipaksa untuk berpikir, untuk segera bertindak, agar kita terhindar dari situasi yang lebih buruk, misalnya mati kelaparan. Situasi kepepet membuat kita segera Stop Dreaming Start Action. Tahukah Anda bahwa Sekolah-Menulis Online yang saya kelola, juga didirikan karena – salah satunya – faktor kepepet

Bila kita “ditakdirkan” untuk berada pada situasi kepepet, maka kita “beruntung” karena mendapat kesempatan untuk segera mewujudkan hal-hal yang sudah lama kita tunda. Tapi bagaimana kalau situasi kepepet tidak muncul juga? Salah satu kiatnya adalah dengan MEMBAYANGKAN situasi kepepet tersebut, seperti yang saya jelaskan di sini. Kutipannya:

Maka bila suatu saat nanti Anda malas-malasan dalam menulis, cobalah ingat lagi tujuan ini. Pikirkan hal-hal buruk yang dapat menimpa Anda bila tidak menulis:

1.Saya tak bisa mengaktualisasikan diri.
.
2.Orang-orang tidak akan mengetahui potensi diri saya, karena saya belum juga menulis untuk mengaktualisasikan diri saya.
.
3.Saya masih bernasib seperti ini, masih diejek orang, masih diremehkan, masih tidak dianggap.
Ketika memikirkan hal-hal buruk seperti itu, yakin deh bahwa ada sesuatu yang “panas” di dalam hati Anda (percaya atau tidak, hati saya juga ikut panas ketika menulis ketiga poin di atas). Dan rasa panas seperti itulah yang nantinya bisa kembali membangkitkan motivasi Anda. Rasa malas Anda pun sirna seketika, berubah menjadi semangat yang menggebu-gebu!

Kiat lainnya adalah dengan memanfaatkan peluang yang diberikan oleh orang lain. Salah satu contohnya: Kontes SEO yang diselenggarakan oleh Pak Joko Susilo. Kontes yang membidik kata kunci Stop Dreaming Start Action ini berhadiah puluhan juta rupiah. Tentu ini sangat menggiurkan, bukan? Karena sangat menggiurkan inilah, kita bisa tergerak untuk SECARA SERIUS mengikutinya. Kita berjuang keras agar bisa mendapatkan hadiahnya.

Bagi saya sendiri, Kontes Stop Dreaming Start Action ini bukan hanya didorong oleh hadiah yang menggiurkan. Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk menguji seberapa besar kemampuan saya dalam menerapkan SEO. Seperti seorang pendekar sakti, kita tentu harus membuktikan “kesaktian” kita dengan cara “bertarung” dengan pendekar lain.

Jadi bagi saya, Kontes SEO dengan kata kunci Stop Dreaming Start Action ini adalah ajang pertarungan untuk membuktikan tingkat kesaktian saya di bidang SEO.

Selain itu, tentu saja tujuan lainnya adalah untuk menambah pengalaman. Ya, selama ini saya lebih banyak belajar SEO hanya dari teori dan praktek-praktek yang sederhana. Saya belum tergerak untuk menekuninya secara lebih mendalam. Kenapa? Salah satu penyebabnya adalah seperti yang saya jelaskan di atas: Belum ada situasi kepepet.

Maka, Kontes SEO Stop Dreaming Start Action ini saya anggap saja sebagai sebuah situasi kepepet. Dan ketika ikutan, saya terus terpacu untuk berjuang keras, agar blog saya bisa tampil sebagai pemenang (Amiin….). Dan dalam action, perjuangan dan kerja keras tersebutlah, insya Allah saya akan mendapat banyak pengalaman yang bisa meningkatkan pengetahuan dan keahilan saya di bidang SEO.

Jadi bagi Anda yang hingga hari ini belum action juga untuk meraih mimpi-mimpi Anda, yuk SEGERA Stop Dreaming Start Action. Mulahlah saat ini juga. Tumbuhkan motivasi yang kuat pada diri Anda. Atau, ciptakan saja situasi kepepet. Insya Allah, Anda akan segera tergerak untuk action.

Bila sudah action, maka sukses hanyalah masalah waktu. Insya Allah.

Semoga bermanfaat.

Salam Sukses!

Jonru



Read More......

Mengapa Banyak Orang yang Membenci Hari Senin?

Ketika hari Senin tiba, banyak orang yang berkata (walau cuma di dalam hati), “I hate Monday!” (Tulisan terbaru di Detik.com ini menjadi salah satu bukti kuatnya).

Dan ketika hari Jumat tiba, mereka ramai-ramai berteriak dengan sukacita, “Thanks God, It’s Friday!”

Mungkin selama ini kita menganggap hal seperti ini biasa-biasa saja. Tapi cobalah kita renungkan:
Kenapa kita benci pada hari Senin? Sebab hari Senin adalah awal dari hari kerja, setelah dua hari bersenang-senang menikmati week end.

Kenapa kita sangat mencintai hari Jumat? Karena besoknya adalah dua hari weekend yang sangat menyenangkan.

Dari dua pertanyaan dan jawabannya di atas, jelaslah bahwa para pekerja kantoran PADA UMUMNYA tidak menyukai hari kerja. Senin hingga Jumat bagi mereka adalah sebuah beban yang berat. Mereka harus mencari nafkah, bekerja di perusahaan milik orang lain. Mereka mengerjakan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka sukai.

Satu-satunya alasan mereka untuk bertahan adalah UANG atau NAFKAH.

Ya, bagi banyak orang, mencari nafkah adalah sebuah urusan yang sangat berat. Dan karena uang adalah satu-satunya alasan, tak heran bila banyak orang yang suka mencari lowongan kerja baru hanya dengan tujuan “agar mendapat gaji dan fasilitas yang lebih baik.”

Ya, gaji dan fasilitas yang lebih baik tersebut memang bisa mereka dapatkan. Tapi yang TIDAK mereka dapatkan adalah KEBAHAGIAAN. Mereka tetap membenci hari Senin dan bersuka cita ketika hari Jumat tiba.

Karena itulah, kenapa kita tidak mencoba untuk berubah?

Salah satu CARA JITU agar kita bisa mencintai hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu adalah dengan mencari nafkah dari hal-hal yang paling kita sukai.

Anda yang hobi fotografi, bisa mencari nafkah dengan menjadi seorang fotografer profesional.
Anda yang hobi menjaga kendaraan orang lain, bisa mencari nafkah sebagai tukang parkir.
Anda yang hobi menulis, bisa menjadi seorang penulis profesional.

Ketika hobi sudah menjadi sumber penghasilan utama Anda, maka uang bukan lagi menjadi faktor utama yang membuat Anda bahagia. Anda mencintai pekerjaan tersebut bukan karena penghasilannya besar, tapi karena Anda suka. Itu saja. Titik.

“Lho, tapi kalau penghasilan dari hobi saya tersebut tidak cukup untuk menafkahi hidup saya, bagaimana dong?”

Ya, ini memang bisa terjadi. Tapi ada satu hal yang mungkin Anda lupakan:

APAPUN yang Anda tekuni secara serius, fokus, penuh komitmen dan konsisten, maka suatu saat nanti Insya Allah itu akan bisa menjadi penopang hidup Anda dari segi finansial.

Kenapa bisa begitu?
Karena begitu Anda menekuni sesuatu secara serius, fokus, penuh komitmen dan konsisten, maka secara perlahan dan meyakinkan Anda akan menjadi orang yang ahli di bidang tersebut. Masyarakat akan mengakui keahlian dan kepakaran Anda. Dan bila pengakuan seperti ini sudah ada, maka masyarakat akan bersedia membayar jasa Anda dengan harga yang sangat layak.

Sementara bila Anda menekuni hobi Anda secara iseng-iseng belaka, maka yang Anda dapatkan pun hanya iseng-iseng juga. Dengan kata lain, hasilnya tak akan cukup untuk menafkahi hidup Anda. Dengan kata lain, Anda terus-terusan masih harus membenci hari Senin dan mencintai hari Jumat.

Karena itulah, bila Anda ingin hidup berbahagia dengan cara mencari sumber penghasilan utama dari hal-hal yang paling Anda sukai, maka saya yakin Anda sudah tahu apa yang harus dilakukan:

MULAI SEKARANG, tekunilah hobi Anda secara serius, fokus, penuh komitmen dan konsisten.

“Tekunilah pekerjaan yang paling kamu sukai, maka kamu tak akan pernah bekerja keras.” (Bob Sadino)

Artikel berikut ini semoga bisa menjadi inspirasi tambahan bagi Anda:

- The Power of Konsisten
- Ingin Menemukan Lentera Jiwa? Ini Kiatnya!

Semoga bermanfaat. Salam sukses!

Jonru



Read More......

[Kiat Sukses] Kapan Saat yang Tepat untuk MENYERAH?


“Lho, kenapa harus menyerah?
Bukankah agar sukses, kita harus selalu optimis, tetap semangat, terus mencoba walau beribu kali gagal, walau banyak halangan dan kendala?”

Ya, memang benar. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menyerah sama sekali.

Walau saya sering membuat tulisan yang isinya memberi semangat dan motivasi kepada teman-teman sekalian, bukan berarti saya tak pernah menyerah.

Ketika SD, saya pernah menyerah dalam belajar bermain gitar. Saya tetap tidak bisa juga walau sudah berkali-kali mencoba. Teman-teman lain dengan amat mudah mengenali kunci C dan berbagai macam kunci lainnya di snar gitar, sementara saya sama sekali tidak bisa melihat di mana bedanya. Teman-teman lain dengan sangat mudah memainkan nada dari lagu tertentu hanya setelah mereka mendengarnya satu kali saja. Sementara saya? Blank sama sekali soal begituan
Dulu, saya merasa bahwa saya tak berbakat bermain gitar. Tapi saya lantas ingat pada seorang teman sesama penulis bernama Kinoysan. Dia sudah menerbitkan banyak buku dan hampir semuanya best seller. Awalnya, Kinoysan sama sekali tak kepikiran untuk menjadi penulis. Dia bahkan merasa tak punya bakat menulis.

Tapi ketika kuliah, perusahaan keluarganya bangkrut, dan ayahnya sudah ultimatum bahwa kuliah Kinoysan tak dapat lagi diteruskan karena masalah keuangan. Pada saat itulah Kinoysan berpikir keras. Dia memutuskan untuk menjadi penulis, dengan harapan honor-honor tulisan dia bisa digunakan untuk membiayai kuliah. Maka dia pun berhasil. Berhasil lulus kuliah dan menjadi penulis best seller.
Hal yang membuat Kinoysan berhasil bukanlah bakat, karena dia sendiri merasa tak berbakat menulis.

Dari cerita inilah, antara lain, saya percaya bahwa keputusan saya dulu untuk menyerah dalam bermain gitar bukan karena faktor bakat. Tapi karena saya merasa bahwa menjadi pemain gitar bukanlah pilihan hidup saya. Saya merasa tidak kehilangan apapun ketika berhenti belajar bermain gitar. Tak ada cita-cita atau mimpi masa depan saya yang menjadi korban. SECARA PRIBADI, saya merasa bahwa “bisa/pintar bermain gitar” bukanlah sesuatu yang penting.

Maka ketika saya menyerah, ya nothing to loose saja gitu lho

* * *


Ada banyak cerita lainnya di mana saya MENYERAH terhadap hal-hal tertentu.

Tahun 2000-an saya pernah kepikiran untuk belajar web programming dan web design secara lebih mendalam. Tapi niat ini saya urungkan.

Tahun 2006 lalu, saya memutuskan untuk lebih fokus ke penulisan nonfiksi ketimbang fiksi yang sudah saya geluti sejak kecil.

Tanggal 19 Maret 2007 saya menyerah dan berhenti sebagai pekerja kantoran, beralih status sebagai seorang entrepreneur.

Dan masih banyak kejadian lainnya.

Satu hal yang pasti:
Saya menyerah bukan karena putus asa. Saya menyerah karena alasan PILIHAN HIDUP.

Saya menyerah, tidak memperdalam keahlian web programming dan web design, karena saya merasa pilihan hidup saya bukan di situ.

Saya menyerah belajar bermain gitar karena saya merasa pilihan hidup saya bukan sebagai pemain gitar.

Saya menyerah, berhenti sebagai pekerja kantoran, karena saya merasa bahwa ada pilihan hidup yang lebih cocok bagi saya, yakni entrepreneur.

Saya pindah haluan dari penulisan fiksi ke penulisan nonfiksi, bukan karena saya merasa tak mampu menulis cerita fiksi, tapi karena PENGALAMAN mengajarkan saya bahwa saya lebih cocok menulis nonfiksi.

Intinya: Saya menyerah bukan karena saya putus asa dan tak berani mencoba lagi. Saya percaya bahwa SATU-SATUNYA alasan untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.

Toh, kita tidak mungkin bisa menguasai semua hal, bukan?

Setiap orang akan lebih baik menjadi spesialis, lalu mendelegasikan tugas-tugas yang tidak dia kuasai kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.

Walau saya selalu berkata bahwa menulis itu sangat gampang, bukan berarti saya menyalahkan orang lain yang tak mau menulis. Bila mereka tak mau menulis karena merasa tak mampu atau tak berbakat, YA ini sikap yang sangat saya sayangkan.


Tapi bila mereka tak mau menulis karena alasan pilihan hidup, karena mereka sama sekali tidak tertarik untuk menulis, maka insya Allah saya akan sangat memaklumi dan menghormatinya.

* * *

Jadi, setiap kali Anda memutuskan untuk menyerah, pastikanlah bahwa sikap ini diambil karena pertimbangan pilihan hidup, bukan karena Anda sudah putus asa dan tak berani mencoba lagi.

Bila Anda memang punya keinginan untuk meraih A, dan pilihan hidup Anda memang A, maka jangan pernah berhenti/menyerah dalam menggapai A tersebut, walau kendala sebesar apapun menghadang!

Bila Anda bermimpi menjadi seorang penulis sukses, lalu Anda menyerah ketika naskah Anda ditolak, ketika ada orang yang mengejek tulisan Anda, ketika tak ada orang yang mengomentari tulisan di blog Anda, karena Anda tak punya komputer, karena Anda merasa tak punya waktu untuk menulis, dan seterusnya, maka sikap menyerah seperti ini tak akan bisa membawa Anda ke gerbang sukses!

Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun bukanlah alasan untuk menyerah.

Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun justru merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk ditaklukkan.

PECUNDANG = Begitu gagal, dia putus asa, menyerah, merasa tak mampu.

PEMENANG = Begitu gagal, dia intropeksi diri, belajar lebih giat, dan mengatur strategi baru agar tidak gagal lagi pada langkah berikutnya.

Satu-satunya alasan bagi kita untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.

Semoga Bermanfaat dan Salam Sukses!

NB: Baca artikel terkait:
- Menulis, Antara Bakat & Pilihan Hidup

Jonru



Read More......

Blogspot Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Ralepi.Com - Harley-Davidson Motorcycle