Bukankah agar sukses, kita harus selalu optimis, tetap semangat, terus mencoba walau beribu kali gagal, walau banyak halangan dan kendala?”
Ya, memang benar. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menyerah sama sekali.
Walau saya sering membuat tulisan yang isinya memberi semangat dan motivasi kepada teman-teman sekalian, bukan berarti saya tak pernah menyerah.
Ketika SD, saya pernah menyerah dalam belajar bermain gitar. Saya tetap tidak bisa juga walau sudah berkali-kali mencoba. Teman-teman lain dengan amat mudah mengenali kunci C dan berbagai macam kunci lainnya di snar gitar, sementara saya sama sekali tidak bisa melihat di mana bedanya. Teman-teman lain dengan sangat mudah memainkan nada dari lagu tertentu hanya setelah mereka mendengarnya satu kali saja. Sementara saya? Blank sama sekali soal begituan
Dulu, saya merasa bahwa saya tak berbakat bermain gitar. Tapi saya lantas ingat pada seorang teman sesama penulis bernama Kinoysan. Dia sudah menerbitkan banyak buku dan hampir semuanya best seller. Awalnya, Kinoysan sama sekali tak kepikiran untuk menjadi penulis. Dia bahkan merasa tak punya bakat menulis.
Tapi ketika kuliah, perusahaan keluarganya bangkrut, dan ayahnya sudah ultimatum bahwa kuliah Kinoysan tak dapat lagi diteruskan karena masalah keuangan. Pada saat itulah Kinoysan berpikir keras. Dia memutuskan untuk menjadi penulis, dengan harapan honor-honor tulisan dia bisa digunakan untuk membiayai kuliah. Maka dia pun berhasil. Berhasil lulus kuliah dan menjadi penulis best seller.
Hal yang membuat Kinoysan berhasil bukanlah bakat, karena dia sendiri merasa tak berbakat menulis.
Dari cerita inilah, antara lain, saya percaya bahwa keputusan saya dulu untuk menyerah dalam bermain gitar bukan karena faktor bakat. Tapi karena saya merasa bahwa menjadi pemain gitar bukanlah pilihan hidup saya. Saya merasa tidak kehilangan apapun ketika berhenti belajar bermain gitar. Tak ada cita-cita atau mimpi masa depan saya yang menjadi korban. SECARA PRIBADI, saya merasa bahwa “bisa/pintar bermain gitar” bukanlah sesuatu yang penting.
Maka ketika saya menyerah, ya nothing to loose saja gitu lho
* * *
Ada banyak cerita lainnya di mana saya MENYERAH terhadap hal-hal tertentu.
Tahun 2000-an saya pernah kepikiran untuk belajar web programming dan web design secara lebih mendalam. Tapi niat ini saya urungkan.
Tahun 2006 lalu, saya memutuskan untuk lebih fokus ke penulisan nonfiksi ketimbang fiksi yang sudah saya geluti sejak kecil.
Tanggal 19 Maret 2007 saya menyerah dan berhenti sebagai pekerja kantoran, beralih status sebagai seorang entrepreneur.
Dan masih banyak kejadian lainnya.
Satu hal yang pasti:
Saya menyerah bukan karena putus asa. Saya menyerah karena alasan PILIHAN HIDUP.
Saya menyerah, tidak memperdalam keahlian web programming dan web design, karena saya merasa pilihan hidup saya bukan di situ.
Saya menyerah belajar bermain gitar karena saya merasa pilihan hidup saya bukan sebagai pemain gitar.
Saya menyerah, berhenti sebagai pekerja kantoran, karena saya merasa bahwa ada pilihan hidup yang lebih cocok bagi saya, yakni entrepreneur.
Saya pindah haluan dari penulisan fiksi ke penulisan nonfiksi, bukan karena saya merasa tak mampu menulis cerita fiksi, tapi karena PENGALAMAN mengajarkan saya bahwa saya lebih cocok menulis nonfiksi.
Intinya: Saya menyerah bukan karena saya putus asa dan tak berani mencoba lagi. Saya percaya bahwa SATU-SATUNYA alasan untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.
Toh, kita tidak mungkin bisa menguasai semua hal, bukan?
Setiap orang akan lebih baik menjadi spesialis, lalu mendelegasikan tugas-tugas yang tidak dia kuasai kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Walau saya selalu berkata bahwa menulis itu sangat gampang, bukan berarti saya menyalahkan orang lain yang tak mau menulis. Bila mereka tak mau menulis karena merasa tak mampu atau tak berbakat, YA ini sikap yang sangat saya sayangkan.
Tapi bila mereka tak mau menulis karena alasan pilihan hidup, karena mereka sama sekali tidak tertarik untuk menulis, maka insya Allah saya akan sangat memaklumi dan menghormatinya.
* * *
Jadi, setiap kali Anda memutuskan untuk menyerah, pastikanlah bahwa sikap ini diambil karena pertimbangan pilihan hidup, bukan karena Anda sudah putus asa dan tak berani mencoba lagi.
Bila Anda memang punya keinginan untuk meraih A, dan pilihan hidup Anda memang A, maka jangan pernah berhenti/menyerah dalam menggapai A tersebut, walau kendala sebesar apapun menghadang!
Bila Anda bermimpi menjadi seorang penulis sukses, lalu Anda menyerah ketika naskah Anda ditolak, ketika ada orang yang mengejek tulisan Anda, ketika tak ada orang yang mengomentari tulisan di blog Anda, karena Anda tak punya komputer, karena Anda merasa tak punya waktu untuk menulis, dan seterusnya, maka sikap menyerah seperti ini tak akan bisa membawa Anda ke gerbang sukses!
Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun bukanlah alasan untuk menyerah.
Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun justru merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk ditaklukkan.
PECUNDANG = Begitu gagal, dia putus asa, menyerah, merasa tak mampu.
PEMENANG = Begitu gagal, dia intropeksi diri, belajar lebih giat, dan mengatur strategi baru agar tidak gagal lagi pada langkah berikutnya.
Satu-satunya alasan bagi kita untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.
Semoga Bermanfaat dan Salam Sukses!
NB: Baca artikel terkait:
- Menulis, Antara Bakat & Pilihan Hidup
Jonru
Dari cerita inilah, antara lain, saya percaya bahwa keputusan saya dulu untuk menyerah dalam bermain gitar bukan karena faktor bakat. Tapi karena saya merasa bahwa menjadi pemain gitar bukanlah pilihan hidup saya. Saya merasa tidak kehilangan apapun ketika berhenti belajar bermain gitar. Tak ada cita-cita atau mimpi masa depan saya yang menjadi korban. SECARA PRIBADI, saya merasa bahwa “bisa/pintar bermain gitar” bukanlah sesuatu yang penting.
Maka ketika saya menyerah, ya nothing to loose saja gitu lho
* * *
Ada banyak cerita lainnya di mana saya MENYERAH terhadap hal-hal tertentu.
Tahun 2000-an saya pernah kepikiran untuk belajar web programming dan web design secara lebih mendalam. Tapi niat ini saya urungkan.
Tahun 2006 lalu, saya memutuskan untuk lebih fokus ke penulisan nonfiksi ketimbang fiksi yang sudah saya geluti sejak kecil.
Tanggal 19 Maret 2007 saya menyerah dan berhenti sebagai pekerja kantoran, beralih status sebagai seorang entrepreneur.
Dan masih banyak kejadian lainnya.
Satu hal yang pasti:
Saya menyerah bukan karena putus asa. Saya menyerah karena alasan PILIHAN HIDUP.
Saya menyerah, tidak memperdalam keahlian web programming dan web design, karena saya merasa pilihan hidup saya bukan di situ.
Saya menyerah belajar bermain gitar karena saya merasa pilihan hidup saya bukan sebagai pemain gitar.
Saya menyerah, berhenti sebagai pekerja kantoran, karena saya merasa bahwa ada pilihan hidup yang lebih cocok bagi saya, yakni entrepreneur.
Saya pindah haluan dari penulisan fiksi ke penulisan nonfiksi, bukan karena saya merasa tak mampu menulis cerita fiksi, tapi karena PENGALAMAN mengajarkan saya bahwa saya lebih cocok menulis nonfiksi.
Intinya: Saya menyerah bukan karena saya putus asa dan tak berani mencoba lagi. Saya percaya bahwa SATU-SATUNYA alasan untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.
Toh, kita tidak mungkin bisa menguasai semua hal, bukan?
Setiap orang akan lebih baik menjadi spesialis, lalu mendelegasikan tugas-tugas yang tidak dia kuasai kepada orang-orang yang ahli di bidangnya.
Walau saya selalu berkata bahwa menulis itu sangat gampang, bukan berarti saya menyalahkan orang lain yang tak mau menulis. Bila mereka tak mau menulis karena merasa tak mampu atau tak berbakat, YA ini sikap yang sangat saya sayangkan.
Tapi bila mereka tak mau menulis karena alasan pilihan hidup, karena mereka sama sekali tidak tertarik untuk menulis, maka insya Allah saya akan sangat memaklumi dan menghormatinya.
* * *
Jadi, setiap kali Anda memutuskan untuk menyerah, pastikanlah bahwa sikap ini diambil karena pertimbangan pilihan hidup, bukan karena Anda sudah putus asa dan tak berani mencoba lagi.
Bila Anda memang punya keinginan untuk meraih A, dan pilihan hidup Anda memang A, maka jangan pernah berhenti/menyerah dalam menggapai A tersebut, walau kendala sebesar apapun menghadang!
Bila Anda bermimpi menjadi seorang penulis sukses, lalu Anda menyerah ketika naskah Anda ditolak, ketika ada orang yang mengejek tulisan Anda, ketika tak ada orang yang mengomentari tulisan di blog Anda, karena Anda tak punya komputer, karena Anda merasa tak punya waktu untuk menulis, dan seterusnya, maka sikap menyerah seperti ini tak akan bisa membawa Anda ke gerbang sukses!
Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun bukanlah alasan untuk menyerah.
Bagi seorang pemenang, kegagalan dan hambatan sebesar apapun justru merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk ditaklukkan.
PECUNDANG = Begitu gagal, dia putus asa, menyerah, merasa tak mampu.
PEMENANG = Begitu gagal, dia intropeksi diri, belajar lebih giat, dan mengatur strategi baru agar tidak gagal lagi pada langkah berikutnya.
Satu-satunya alasan bagi kita untuk menyerah adalah PILIHAN HIDUP.
Semoga Bermanfaat dan Salam Sukses!
NB: Baca artikel terkait:
- Menulis, Antara Bakat & Pilihan Hidup
Jonru




0 komentar:
Posting Komentar